Langsung ke konten utama

Anak Broken Home ternyata bukan dari keluarga yang bercerai, tapi???



Sudah bukan rahasia umum, jika anak – anak korban perceraian orang tuanya menjadi anak – anak yang BROKEN HOME. Anak yang jiwanya labil, dan seringkali mencari pelarian ke hal – hal negatif, dari pacaran, sex bebas, narkoba, dan hal – hal buruk lainnya.

Perceraian sangat Allah benci, meskipun dibolehkan karena jika ada umat Muhammad yang bercerai, bersorak riang gembiralah para syaitan dengan hegitu mereka syaiton lebih mudah menghancurkan umat  nabi Muhammad.

Namun, jika pernikahan tak lagi bisa meningkatkan iman dan ketaqwaan, karena salah satu pasangan salah jalan dan sulit dikembalikan setelah diusahakan dan agar diri tak ikut tenggelam dalam bahtera yang sudah rapuh dan dipenuhi air akibat ombak yang menerjang. Maka perceraian bisa menjadi pilihan, karena niat kita ingin selamatkan iman pada Allah SWT.

Ketika sebuah keluarga dibangun dengan pondasi iman dan ketaqwaan, maka jalan kebaikan akan terbentang sehingga seluruh anggota keluarga akan saling mengingatkan dalam kebaikan terutama dalam hal ibadah. Keluarga seperti ini adalah keluarga harmonis yang bukan saja di dunia namun juga di akhirat nanti insyaAllah.

Sebaliknya, jika ada keluarga kompak, selalu berkumpul di rumah, berjalan – jalan dan bertamasya tak pernah ketinggalan kala liburan datang, namun selalu lupa dalam mengingatkan kebaikan beribadah kepada Allah SWT, sejatinya keluarga seperti ini hanya harmonis di dunia saja namun tidak di akhirat. Dan tidak menutup kemungkinan jika anak – anak yang tumbuh dalam keluarga ini bisa menjadi anak broken home meski kedua orang tuanya pasangan harmonis namun tanpa keimanan dan ketaqwaan.

Kembali dengan judul di atas. Jika dalam sebuah keluarga terdapat perceraian yang tak bisa dielakan karena sebab syar’i, namun sedari awal keluarga tersebut memiliki pondasi iman yang baik, insyaAllah perceraian tidak akan menimbulkan masalah berarti. Karena semua anggota keluarga sudah tahu porsi masing – masing dalam aturan islam.

Namun, jika perceraian terjadi karena hawa nafsu dari pasangan atau salah satunya, tanpa sebab syar’i maka sudah di pastikan sebelum berceraipun keluarga tersebut tidak memiliki pondasi iman yang baik sehingga, gangguan kecil bisa bermasalah bagi mereka apalagi perceraian yang merupakan puncak masalah rumah tangga. Hal tersebut akan membuat anak menjadi broken home yang memiliki jiwa labil dan galau tingkat tinggi.

Singkatnya, anak – anak broken home hadir bukan karena perceraian orang tua namun karena kekosongan hati akan iman pada Allah SWT.

Agar kita senantiasa menjadi keluarga harmonis dunia - akhirat, kita membutuhkan bukan hanya liburan fisik semata namun juga rohani penguat jiwa.
Rajin - rajinlah datang menghadiri kajian ilmu islam sekeluarga, agar hati kita dan anggota keluarga tak kosong dan gersang.

Waullahu'alam bishawab.
@Winova


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasangan Toxic Pertahankan atau Lepaskan?

  Pasangan Toxic, Pertahankan atau Lepaskan? Beberapa waktu yang lalu beredar luas di dunia Maya dan pertelevisian mengenai pasangan artis yang menjadi korban KDRT dan membuat geger se-Indonesia juga membuat geram sekaligus takut, terutama bagi mereka yang belum menikah atau mereka orang tua yang hendak akan menikahkan anaknya. Bagi yang belum menikah, maka seleksi calon pasangan baik itu kepada calon istri atau suami sangat diperlukan. Mengenal pasangan bertahun-tahun dengan metode pacaran dengan dalih untuk bisa mengenal lebih baik sang calon maka hak tersebut tidak tepat karena selama apapun kita bersama pasangan tidak halal tidak akan pernah ia menampakkan sifat aslinya kepada kita.  Bagi pasangan yang baru menikah saja, pada kebanyakan orang, tiga bulan pertama pernikahan itu adalah masih masa-masa indah pernikahan lalu, setelah melalui tiga bulan pertama maka, setiap diri akan mulai menunjukkan sifat asli masing-masing dan itu pun kita masih belum mengenal dengan baik pa...

Flash Fiction 1

BAJU KESAYANGAN SUAMI Rini, istri penurut meski begitu ia juga berani beragumen terhadap pendapat atau tindakan suami yang tak bisa ia terima. Seperti bernada tinggi saat menasehati untuk hal sepele. Rini, menyayangi suami yang dipandangnya sangat gagah dan menarik itu, dengan tubuh tinggi besar dan berkulit bersih. Dan Rini  juga seorang perempuan yang menjaga penampilannya. Dan ia juga ingin suaminya bersikap yang sama. Namun, Rini sebal pada sikap suaminya yang sering tak hiraukan penampilannya, rambutnya sering ia biarkan gondrong hingga terlihat menggulung – gulung karena ikal. Belum lagi kaos oblong usang dan bolong yang sering dipakai suaminya saat dirumah. “Ahhh...” Rini sering mengelus dada saat memandang suaminya jika di rumah. “Ah...seandainya ia bisa lebih rapih tentu aku akan sangat senang dan bersemangat saat bersamanya.” Rini membatin. Saat kaos oblong suaminya itu sudah kering dari jemuran. “Tuh..., pake tuh kaos oblongnya!” ucap Rini. “Muuuaaach......

Game2 #10

Aqila 4th, alhamdulillah sudah mandiri dalam beberapa hal, seperti mandi, pakai baju dengan pilihannya sendiri😁, sisiran, bedakan dan juga tidur sendiri. Meski kadang2 masih minta dikeloni. #Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10hari